0
Dikirim pada 03 Oktober 2018 di Wawasan

Autokritik Gus Dur di Depan 200 Pastor ROBERTUS BELARMINUS Kompas. com - 07/09/2017, 21 : 48 WIB Ketua Umum PB NU Gus Dur, KH Abdurrahman Wahid di Musyawarah Nasional Ulama serta Pertemuan Besar NU di Pondok Pesantren Quomarul Huda, Mataram, NTB. Poto diambil pada November 1997. (Kompas/Eddy Hasby) JAKARTA, KOMPAS. com - Kegelisahan terpancar di lebih dari 200 pastor kala tunggu kehadiran Abdurrahman Wahid alias Gus Dur serta rombongan, di Malang, Jawa Timur, pada Desember 1996. Lumrah saja ekspresi mereka was-was, lantaran beberapa saat awal kalinya di Situbondo, 22 gereja serta bangunan keagamaan dirusak serta dibakar dalam tempo satu hari. Beberapa pastor itu datang dari beragam daerah di Jawa Tengah serta Jawa Timur. Mereka mengundang Gus Dur buat bicara dalam seminar dalam sebuah sekolah teologi. Sebenamya sekitar 400 orang yg mengharap ada,  tapi tempat pertemuan di sekolah teologi itu tidak sangat mungkin. Diatas tribune terdaftar, " Seminar Studium General " . Serta di bawahnya terdaftar lagi, " Bangun Persaudaraan Sejati " . Kala berubah menjadi pembicara di seminar itu, Gus Dur bicara tiada teks.


Baca juga : contoh teks anekdot


Salah satunya ceramahnya pada waktu itu ia merintih orang beragama Islam cuma tahu dikit perihal bhs Arab, tapi terasa tahu semuanya. Pengetahuan agamanya kian lebih baik beberapa ulama dulu, tapi mereka itu tidak sukai menonjolkan diri. 


Orang Islam tak lagi pengen memakai kata minggu, mereka pilih kata ahad. Tapi, saya jelaskan pada Anda kita tidak semakin lebih baik dalam ber-Islam kendati kita pilih kata ahad bukan minggu, ” kata Gus Dur. 


Seperti umumnya, ceramah Gus Dur penuh dengan lelucon. Dia memberikan lelucon lagi. " Sebetulnya, mungkin beberapa orang Nasrani berhenti saja pergi ke gereja dalam hari Minggu, hingga ahad semakin lebih Islam lagi, " tutur Gus Dur. Dengan ceramah yg penuh lelucon itu, dia sukses menangani ketegangan beberapa pastor. Kejadian Gus Dur itu ditulis oleh Andree Feillard, salah satunya penulis dalam buku berjudul " Hilang ingatan Gus Dur " . Buku itu diluncurkan oleh penerbit LKIS. Orator ulung Gus Dur ialah orator yg memiliki bakat. Dia dapat tak diduga menggeser perincian yg kaya fakta-fakta yg dramatik ke anekdot yg penuh humor, dan selanjutnya kembali pada rangkuman yg serius. Ia cerdas membuat lelucon terpenting dalam bhs Jawa. Ini seni yang disebut kepiawaiannya yg menonjol. Duduk diatas tribune, Gus Dur meneruskan ceramahnya perihal birokratisasi, otokrasi Soeharto, serta politisasi agama.


Artikel Terkait : teks anekdot


Gus Dur kala itu memprotes label halal yg dibutuhkan MUI pada produk makanan. Ia menanyakan mengapa kita dapat makan sejak dahulu tiada label halal, sekarang kita menuntutnya. Lantas masalah tuntutan MUI biar tidak ada peringatan Saint Valentin, lantaran dikira hari besar Nasrani. Sambil ketawa kecil, Gus Dur menanyakan pada beberapa peserta seminar, ”Adakah di sini pastor yg rayakan hari Saint Valentin? "


Satu kali lagi ceramah Gus Dur itu memancing ketawa. Hari Saint Valentin dalam orang spesifik dipandang seperti hari cinta yg umumnya dirayakan oleh lelaki (suami atau pacar) dengan memberikan bunga pada yg dicintainya. Hari itu sesungguhnya tidak ada relevansinya dengan hari raya agama, tapi unsur komersialnya lebih menonjol.


Dalam pemikirannya, Gus Dur senantiasa condong pada Islam yg lebih mengedepankan dimensi spiritual serta substansial daripada dimensi resmi serta ritual. Dia ziarah di kuburan orang tuanya atau beberapa wali, tapi dia tidak sukai memaksakan pandangan serta ritual spesifik pada orang-orang. Dalam artian itu, dia dikira serupa seperti Kiai Wahab Hasbullah yg senantiasa merujuk pada jalan keluar lewat fiqh dibawah prinsip, " kenapa ambil fiqh yg berat kalaupun ada hukum fiqh yg enteng " .


Gus Dur bahkan juga lebih jauh lagi, mengedepankan pada isi, serta kedalaman spirit, dibandingkan dengan tampilan yg miliki sifat kulit serta resmi yg dapat sembunyikan perbuatan yg tidak miliki moral. Semangat pandangan Gus Dur yg begitu bukan sekedar mengesankan tapi menemukannya titik temunya dengan pandangan beberapa pastor di Malang itu.


Selanjutnya terlontar pertanyaan pada Gus Dur dalam seminar itu, " Bagaimana kita dapat kembali pada hari-hari persaudaraan, bebas dari manipulasi, bebas dari sama sama sangsi? " Gus Dur lantas menjawab, " Silakan diorganisir pertemuan pada beberapa pastor dengan beberapa ulama lokal. Acara itu lantas ditutup dengan doa serta beberapa pastor mendoakan Gus Dur dengan cara teristimewa " . 


 


Artikel ini sudah muncul di Kompas. com dengan judul " Autokritik Gus Dur di Depan 200 Pastor " , https : //nasional. kompas. com/read/2017/09/07/21480341/autokritik-gus-dur-di-depan-200-pastor. 


Penulis : Robertus Belarminus



Dikirim pada 03 Oktober 2018 di Wawasan
comments powered by Disqus


connect with ABATASA